Feeds:
Posts
Comments

PERISTIWA KEBUDAYAAN BULAN JULI:

“JAMBORE PENDIDIKAN SENI NUSANTARA”

Setiap pelawat punya berbagai alasan untuk berkunjung ke Lombok.

Disamping Cidomo, Senggigi, Kute dan Gili-Gili di Pulau Lombok, bulan Juli depan ada tambahan sederet peristiwa kebudayaan yang melengkapi alasan pelawat untuk datang ke Lombok. Kalau Anda akan berkunjung di bulan ini, Anda akan bertemu dengan para siswa dan guru dari 18 provinsi dari belahan lain negeri ini yang akan berhajat dan berekpresi. Merayakan akan merayakan keberagaman dan kekayaan khasanah estetika Nusantara di gumi Sasak.

Coba saja simak dan berhitung tanggal untuk mencocokkan kalender perjalanan Anda dengan kalender kebudayaan berikut:

JADWAL KEGIATAN JAMBORE PENDIDIKAN SENI NUSANTARA

Mataram, 16 – 22 Juli 2009

Kamis, 16 Juli 2009

Jam

Materi

Tempat

10:00—21:00 Peserta Check in, registrasi.

Penginapan

(Asrama Haji)

16.00 – 18.00 Penyiapan Pameran

Museum & Penginapan

18.00 – 19.30 Istirahat

19:30—21:00 Rapat koordinasi panitia-official Technical Meeting utk upacara & pawai

Penginapan

(Asrama Haji)

Jumat, 17 Juli 2009

Jam

Materi

Tempat

07.00 – 08.30

Sarapan

08.30 – 09.30 Menuju lokasi & Persiapan upacara
09.30 – 12.00 Upacara Pembukaan

Praya –

Lombok Tengah

12.00 – 13.30 Istirahat & Makan siangPersiapan Pawai (Seluruh kontingen & partisipan)

13.30 – 17.00 Pawai

17.00 – 18.00 Pembukaan pameran-       Sambutan Kepala Museum

–    Pertunjukkan Seni lokal NTB

Museum NTB

18.00 – 20.00 Istirahat

Penginapan

(Asrama Haji)

20.00 – 21.30

–      Welcome Dinner dengan Gubernur NTB!

–       Pertunjukkan siswa

–       Pertunjukkan Seni lokal NTB

Pendopo Gubernur

Sabtu, 18 Juli 2009

Jam

Materi

Tempat

07.00 – 08.30

Sarapan

08.30 – 10.00 Debat Siswa: Tema 1Menyikapi Budaya Barat Dalam Kehidupan Sehari-hari.

Aula Handayani – DIKPORA

10.00 – 10.30 Coffe Break

10.30 – 12.30 Debat Siswa: Tema 2Kontroversi Seputar Pengklaiman Reog dan Lagu Rasa Sayange oleh Malaysia

Aula Handayani – DIKPORA

12.30 – 13.30 ISHOMA

13.30 – 15.00 Workshop Sesi 1 (Paralel 6 topik)Untuk Siswa :

1. Penulisan Kreatif

2. Pembuatan Topeng

3. Teater

4. Tari

5. Film

Untuk Guru :

Metodologi Penelitian dan Dokumentasi Kesenian Nusantara

LPMTK

15.00 – 15.30 Coffe Break
15.30 – 18.00 Workshop Sesi 2 (Paralel 6 topik)Untuk Siswa :

1. Penulisan Kreatif

2. Pembuatan Topeng

3. Teater

4. Tari

5. Film

Untuk Guru:

Metodologi Penelitian dan Dokumentasi Kesenian Nusantara]

LPMTK

18.00 – 19.30 ISHOMA
19.30 – 21.30 Pemutaran Film  dan diskusi

Aula Penginapan

(Asrama Haji)

Minggu, 19 Juli 2009

Jam

Materi

Tempat

07.00 – 08.30

Sarapan
08.30 – 10.00 Workshop Sesi 3 (Paralel 6 topik)Untuk Siswa:

1. Penulisan Kreatif

2. Pembuatan Topeng

3. Teater

4. Tari

5. Film

Untuk Guru :

Metodologi Penelitian dan Dokumentasi Kesenian Nusantara

LPMTK

10.00 – 10.30 Coffe Break
10.30 – 12.30 Workshop Sesi 4 (Paralel 6 topik)Untuk Siswa:

1. Penulisan Kreatif

2. Pembuatan Topeng

3. Teater

4. Tari

5. Film

Untuk Guru:

Metodologi Penelitian dan Dokumentasi Kesenian Nusantara

LPMTK

12.30 – 14.30 ISHOMA – Menuju Ponpes NW

14.30 – 15.00 Coffe Break

15.00 – 17.00 – Debat Siswa: Tema 3 Islam dan Penghargaan terhadap Kesenian

– Pertunjukkan seni local NTB

PonPes NW

17.00 – 18.00 Kembali ke penginapan

18.00 – 19.30 ISHOMA

19.30 – 21.30 -Pertunjukan seni local NTB- Pertunjukkan siswa (2 group)

-Pentas Monolog Putu Wijaya

Taman Budaya NTB

Senin, 20 Juli 2009

Jam

Materi

Tempat

07.00 – 08.30

Sarapan

08.30 – 18.00 Perjalanan Budayacttn : jika memungkinkan kerjasama dengan hotel di Senggigi utk menyiapkan

panggung pertunjukkan & api unggun pertunjukkan seni local NTB

Rute I : Segenter, Masjid Agung Bayan Beleq, Senaru, SenggigiRute II : Narmada, Sade, Banyumulek, Sekarbela, Senggigi
18.00 – 19.30 ISHOMA
19.30 – 21.30 Diskusi/Kesan & Pesan Siswa & Guru/Kontingen

Aula Penginapan

(Asrama Haji)

Selasa, 21 Juli 2009

Jam

Materi

Tempat

07.00 – 08.30

Sarapan

08.30 – 10.00 Seminar Umum 1Genealogi Konsep Multikulturalisme dari Berbagai Aliran Pemikiran Gedung Sangkareang,
10.00 – 10.30 Coffe Break

10.30 – 12.30 Seminar Umum 2Strategi Pengembangan Konsep Multikulturalisme di Bidang Pendidikan Seni Budaya Gedung Sangkareang
12.30 – 13.30 ISHOMA

13.30 – 18.00 Pagelaran Seni-Pertunjukan seni siswa

Taman Budaya NTB/Graha Bakti Praja

18.00 – 19.30 Istirahat

19.30 – 21.30 Penutupan-       Pertunjukkan seni siswa

–       Sambutan Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata

–       Sambutan WaGub NTB

–  Orasi Budaya oleh Goenawan Muhamad

http://www.caping.wordpress.com

Taman Budaya NTB/Graha Bakti Praja

21.30 – 03.00 Pertunjukan seni lokal : Wayang Kulit Sasak/Topeng Aq. Abir

Taman Budaya NTB/Graha Bakti Praja

Rabu, 22 Juli 2009

Jam

Materi

Tempat

07.00 – 08.30

Sarapan

08.30 – …… Check Out

1.

Nama Program

:

JAMBORE NASIONAL PENDIDIKAN SENI  NUSANTARA 2009Menguatkan Kesadaran Multikultural Melalui Pendidikan Seni Budaya

2.

Organisasi Pengusul

:

Lembaga Pendidikan Seni Nusantara

3.

Alamat

:

LPSN Jakarta :

Jl. Sawah Lunto No. 65, Jakarta 12970

Telp. (021) 8294643, 8315084

LPSN NTB :

Jl. Pejanggik, No. 60 A, Pajang – Mataram

Telepon/Fax. (0370) 6838519 / 631275

4.

Email

:

E_mail : psn_ntb@yahoo.co.id

5.

Contact Person

:

1) Moch. Yamin

Hp: 08175755127

2) Adi Nugroho

Hp. 08159582938

3) Juli S. Komalasari

Hp: 081917328700

Email: juli_sk@yahoo.com

6.

Organisasi Pelaksana Program

:

      • M. Yamin (LPSN NTB) : Ketua
      • Adi Nugroho (LPSN Jakarta) : Wakil Ketua
      • H. Warsaidarto Taufik : Wakil Ketua
  • Juli S. Komalasari (LPSN NTB) : Administrasi & Keuangan

7.

Lokasi Program

:

Mataram, Nusa Tenggara Barat

8.

Hari dan Tanggal Pelaksanaan Program

:

Kamis – Selasa, 16 – 22 Juli 2009

9.

Kegiatan Umum

:

  1. Pawai Budaya
  2. Pameran Karya Seni Siswa
  3. Pertunjukan Seni Siswa
  4. Pemutaran Film
  5. Workshop Siswa :

Penulisan Kreatif: Jurnalisme Kesenian Topeng

– Teater

– Tari

– Film

  1. Workshop Guru: “Metodologi Penelitian dan Pendokumentasian Kesenian Nusantara”
  2. Debat Siswa

7.    Pertunjukan Khusus

8.    Seminar Sehari

9.    Orasi Kebudayaan

10.  Perjalanan Budaya.

10.

Tujuan Program

:

  1. Membangun rasa ingin tahu, keberminatan, dan kepedulian para siswa, guru, dan masyarakat umum terhadap seni budaya Nusantara.
  2. Membuka ruang interaksi dan  dialog seni budaya antarsiswa dan guru yang berasal  dari pelbagai latar belakang wilayah dan budaya.
  3. Menguatkan kesadaran multikulturalisme di kalangan siswa dan guru.
  4. Membuka forum lanjutan dari proses implementasi Kurikulum Pendidikan Seni Nusantara yang telah diujicobakan di 12 wilayah provinsi di Indonesia.
  5. Mengeksplorasi kekayaan seni budaya Nusantara, tanpa disertai semangat mengunggulkan ataupun merendahkan suatu kebudayaan tertentu, namun lebih pada pembangunan semangat kebersamaan, pengakuan dan penghargaan terhadap keberagaman


POPO DANES bertandang ke Lombok. Arsitek ternama dari Bali ini datang untuk sharing dan diskusi di Rumah Senaru dengan topik ‘Danes Art Veranda dan Komunitas Seniman Denpasar’. Tanggal 2 mei 2009, Popo Danes hadir bertepatan dengan hari pertama Rumah Senaru memulai aktivitasnya sebagai ‘ruang pertemuan’ seniman dan pencinta seni.

Rumah Senaru  merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang kebudayaan dan kesenian. Pada kesempatan ini, dua pendiri Rumah Senaru, Sugi Lanus dan Mantra Ardhana, memperkenalkan dan Rumah Senaru kepada para undangan. Rumah Senaru diharapkan menjadi tempat untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman di antara komunitas seniman-pencinta seni-masyarakat umum. Juga diharapkan dapat mampu menjadi tempat untuk saling memicu para pekerja kreatif untuk terus berkarya. Paling tidak silaturahmi diantaranya terus terjalin.

Perhelatan berjalan sederhana, disetting santai dengan tata ruang yang artistik, dilengkapi dengan lukisan Mantra Ardana. Para tamu duduk ala lesehan ditemani projektor, dan sebuah komputer untuk menampilkan materi yang akan disampaikan Popo Danes. Suasana akrab dan ramah di malam hari menimbulkan atmosfir estetik dan kenyamanan bagi para tamu yang hadir. Rumah senaru sendiri telah dilengkapi speedy, sehingga tamu dapat dengan mudah mengakses internet, terbuka untuk dipakai oleh pengunjung.

“Popo Danes hadir di sini semata ingin berbagi pengalaman dan Popo Danes sangat senang dengan adanya pertemuan macam ini. Rumah Senaru ini terbuka bagi siapa saja yang ingin bertukar pemikiran dan informasi sekitar karya seni dan kehidupan kebudayaan. Kami  mengagendakan secara rutin menyelenggarakan sharing seperti ini,” terang Sugi Lanus ketika membuka acara.

Sharing perdana yang diselenggarakan di Rumah Senaru ini dihadiri sekitar sepuluh tamu undangan. Tidak banyak dari undangan yang dikirim via sms, tapi justru bernilai lebih karena yang hadir bisa lebih serius mendengarkan penuturan Popo Danes tentang pengalamannya yang bisa menjadi salah satu kebanggaan bangsa. Prestasi dan penghargaan yang disandang Popo Danes memang luar biasa. Diantaranya sebagai pemenang Asean Energy Award, membuat banyak design residential di Bali hingga Thailand. Popo Danes dikenal sebagai arsiktektur yang mendapat pengakuan tinggi di Asia dan di kancah internasional.

Pemilik Danes Art Veranda ini menjelaskan pentingnya komunitas untuk membentuk budaya baru. Menurutnya, setidaknya banyak hal yang dapat dilakukan dengan ide yang sederhana. Ia mengaku karirnya melalui kebudayaan di awali dengan membentuk komunitas kecil. “Bahkan dengan menanam satu pohon akan mampu mempengaruhi lingkungan dan budaya sekitar dalam jangka panjang,” ungkapnya sebari memperlihatkan foto-foto kegiatannya di Bali.

Popo Danes meyakini bahwa membentuk komunitas kreatif adalah sebuah usaha untuk bersama-sama memberi makna bagi kehidupan kini dan nanti. Melalui jalur kesenian dan kebudayaan kita bisa memenuhi kebutuhan hidup bermasyakat, tutur Popo.

“Dulu saya pernah berbicara di depan beberapa orang saja yang justru tidak mengerti tentang hal yang saya bicarakan, namun seringnya kita berkumpul menimbulkan ikatan persahabatan yang berarti bagi saya juga bagi karir saya,” kata Popo Danes.

Di dunia arsitek di Indonesia dan Asia, sosok Popo Danes memang dikenal sebagai seorang arsitek yang menggali dan mencoba mengexplorasi kekayaan design dan estetika lokal, yang ia kemas dalam design arsitektural yang peka terhadap kebutuhan modern dan sadar lingkungan. Kehadiran arsitek ternama dari Bali ini memang sangat memancing respon para tamu yang hadir untuk mengenal Popo Danes lebih jauh. Salah satunya adalah wartawan yang hadir terus melontarkan pertanyaan dan sharing pengalaman tentang komunitas yang ada di Lombok.

“Saya sangat senang dengan kultur lokal dan saya terus menjadikan kultur lokal sebagai inspirasi karya-karya saya untuk dikenal dunia” tuturnya di akhir acara. (ella)

satu satu

satu satu

Pentas Teater “Satu Lawan Satu” Teater Embrio Lombok
Naskah/sutradara: Winsa

Ini adalah sebuah lakon yang bertumpu pada karakter dan roh teater tradisi dengan pola penyutradaraan, seni peran, tata artistik dan pemanggungan yang berbasis pada tatanan dan kaidah-kaidah teater moderen.

Kelola dan Teater Embrio Lombok
Dalam produksinya yang kesekian kali sejak berdiri tahun 2000, Teater Embrio Lombok di pertengahan tahun ini, selama 6 hari –sedianya 5 hari tapi karena animo penonton yang tinggi maka ditambah 1 hari pertunjukan, 9-14 Juni 2009, pukul 20.00 Wita, menggelar lakon “Satu Lawan Satu” naskah/sutradara Winsa. Bertempat di Teater Tertutup Taman Budaya NTB lakon berdurasi 60-90 menit dengan melibatkan 16 pemain dan 5 musisi ini adalah sebuah upaya penghadiran karya (teater) inovatif yang mencerahkan sekaligus menghibur.
Lewat garapan yang diinspirasi dan dikembangkan dari Teater Tradisi Sasak Kemidi Rudat ini Teater Embrio Lombok tercatat sebagai Peraih Hibah Seni Kelola-Hivos 2009. Tentu saja setelah melintasi jalur panjang dan tidak mudah sehingga dapat lolos dalam salah satu program tahunan yang dilaksanakan Kelola, yakni Hibah Seni Karya Inovatif. Sebuah program yang membuka kesempatan bagi para seniman dan/atau kelompok kesenian untuk memproduksi karya seni pertunjukan yang mampu melintasi batas baku dan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru.
Setelah “berkompetisi” dengan 61 pengusul (baik seniman perseorangan maupun kelompok) dari berbagai provinsi di Indonesia, Teater Embrio Lombok merupakan salah satu 13 yang telah berhasil lolos seleksi sebagai penerima hibah. Tim seleksi Hibah Seni 17 tahun 2009 (Karya Inovatif dan Pentas Keliling) kali ini terdiri dari 5 orang penilai, yaitu Nano Riantiarno, Elly Luthan, Agung Setyadji, Jabatin Bangun, dan Amna S, Kusumo.
“Satu Lawan Satu” juga digelar di arena terbuka di sebuah perkampungan lingkungan masyarakat “tradisi” yang berdampingan dengan lingkungan perumahan yang bermasyarakat “urban”, yaitu di Punia Saba Mataram. Ini sengaja dilakukan dengan tujuan dapat menakar apakah bentuk pertunjukan inovatif berpijak akar tradisi semacam ini bakal diterima mereka dari kedua latar belakang itu.

Sinopsis Cerita
Inti soalnya dipicu oleh persaingan dua tokoh berpengaruh di wilayah masing-masing dalam upaya memperrebutkan tampuk kekuasaan sebagai Ketua Persatuan Wilayah-Wilayah (PW2). Yang paling bergairah untuk itu adalah Amat Ambisi dari Wilayah Rimba. Bahkan saking bergairahnya, iapun tak segan atau malu untuk coba menghentikan langkah seterunya Tegar Angan lewat cara halus (melarang dan menyuap) juga ekstrim dengan adu kekuatan fisik.
Sementara Tegar Angan yang cukup disegani di Wilayah Sebrang bergeming. Didukung massa setianya ia malah makin bersemangat melanjutkan pertarungan politiknya. Baginya maju sebagai kandidat Ketua PW2 merupakan hak azasi individual yang tidak boleh dilarang-larang apalagi dengan main paksa seperti yang diancamkan pesaingnya.
Di tengah “pertikaian” itu, seorang sosok Misterius menelusup memanfaatkan situasi. Malah boleh dikata sebab kehadirannyalah segala keruwetan jadi kian memanas. Dengan tendensi politik dan permodalan ia makin menampakkan dominasinya walau cuma bertengger di balik layar.
Untung ada dua sejoli dari dua keluarga bersetru itu –Bakti Teruna dan Parasindah—yang pada akhirnya mampu meniupkan angin dingin sehingga silang ideologi dan kehendak tidak menjadi berkepanjangan. Atas pijakan jalinan cinta mereka berdua cerita bermuara di pantai sejuk.

Basis Acuan
Kemidi Rudat adalah jenis teater tradisional (Sasak) yang ada di Lombok disamping teater Cupak Gerantang, Amaq Abir dan sebagainya. Sungguhpun kehadirannya masih dirindukan oleh masyarakat pendukungnya, tetapi sebagaimana umumnya terjadi di Indonesia, keberadaan teater tradisi ini semakin tidak menentu dan  nyaris kehilangan jejak. Sebab (kenyataannya) mulai tidak dikenal bahkan kian ditinggalkan baik secara sengaja maupun karena “terpaksa” oleh masyarakat generasi baru yang sedang berada dalam iklim budaya transisi.
Jumlah kelompok/grup teater tradisi tadi amatlah sedikit yang diperparah pula dengan frekwensi pementasan sangat kecil dan penuh ketidakpastian. Sekali setahun-pun belum tentu dapat melakukan pementasan, sebab kebanyakan orang lebih tertarik menanggap organ tunggal atau sejenisnya manakala punya hajatan keluarga.
Sementara itu pada saat yang sama, teater moderen masih tertatih-tatih menggapai eksistensinya. Kehadirannya belum beranjak dari wilayah kalangan terbatas sesama penggiat teater. Hal ini disebabkan oleh masih asingnya masayarakat luas terhadap keberadaanya, di sisi yang lain telah terjadi semacam kemandegan di kalangan teaterawan sendiri yang berkutat pada bentuk yang “itu-itu” saja tanpa ada upaya penjelajahan untuk menemukan bentuk dan warna yang lebih baru lagi. Kecenderungan ini tentu akan berakibat pada teater moderen yang kian hari kian kehilangan penontonnya.

Teater Tradisil Sasak KEMIDI RUDAT
Kemidi Rudat merupakan teater tradisi di Lombok yang lahir dari “perjalanan” tari dan musik Rudat. Dilatarbelakangi oleh kebutuhan bahasa ungkap verbal yang mudah dan cepat dapat dipahami oleh publik maka unsur dialog dimunculkan. Adapun tema dan alur cerita disusun demi keubutuhan penyampaian pesan (moral dan religi) ke audience. Dengan demikian suatu karya kesenian –dalam hal ini Kemidi Rudat– selain menghibur (penghadiran tema melalui alur cerita yang diperkaya dengan adegan-adegan humor) juga ada makna dan nilai-nilai yang menyertainya.
Secara garis besar Kemidi Rudat adalah bentuk teater tradisi yang mengandung unsur bahasa (berbahasa Melayu), tari (tari Rudat yang terkoreografi dari susunan gerak-gerak stakato yang terilhami dari gerakan pencak silat), musik (instrumen rebana, jidur dan penting), tembang (syair puji-pujian), juga rupa (bercostume karakter dan tarian, serta setiap pemain mengenakan kaca mata hitam). Alur cerita berjalan linier dan hanya memainkan sebuah judul cerita saja dengan tema dan tokoh-tokoh peran yang sama pula.
Panggung permainan berbentuk proscenium atau semi arena, dengan menggunakan layar belakang berupa semacam gorden belah tengah untuk keluar-masuk pemain. Layar depan yang dapat dibuka-tutup sebagai batas pergantian adegan atau setting tempat..

Jati Diri Teater Indonesia
Tema utama pada Temu Teater Indonesia ’80 tentang “Menengok Tradisi” sungguh tetap relevan hingga hari ini. Betapa penting bahkan mutlak, bahwa bukan saja guna mencari bentuk tetapi lebih dari itu demi menemukan jati diri teater moderen Indonesia adalah dengan jalan menggali baik karakter, nilai maupun jiwa/roh tradisi (khususnya seni teater tradisional) untuk selanjutnya dikreasikan menjadi karya baru dan universal yang dapat diapresiasi dengan sudut pandang kebaruan yang bersifat universal pula. Dalam perjalanan menggapai jati diri ini, Arifin C. Noer pernah memberi ilustrasi, bahwa bagaimana dalam perkembangan karya teaternya jika Rendra semakin menjawa, Suyatna Anirun semakin menyunda, dan Putu Wijaya semakin membali. Ini sebagai gambaran tentang kegigihan dan kedalaman ketiga tokoh teater tersebut dalam upaya mewujudkan teater moderen Indonesia yang sebenarnya dengan selalu berpondasikan idiom dan roh tradisi masing-masing sebagai bagian dari keindonesiaan secara luas.
Maka kajian dan eksplorasi atas seni-seni (teater) tradisi menjadi kerja yang harus dilakukan terus menerus sebagai aset besar bagi terwujudnya jati diri teater moderen Indonesia disamping referensi teoritik akademik yang diperoleh dari konvensi teater moderen dari barat.

Lakon “SATU LAWAN SATU” oleh Teater Embrio Lombok
Sebagai sebuah karya penciptaan, selain memiliki kelebihan dan keunikan bentuk teater tradisi di Indonesia juga tidak luput dari kelemahan dan kekurangan. Demikian pula sebaliknya teater moderen dari barat.
Oleh karena itu, pijakan pokok dalam menggarap Lakon “Satu Lawan Satu” adalah dengan mengangkat kelebihan dan keunikan seni (baca: teater) tradisi melalui eksplorasi komprehensif demi kemungkinan pengembangan, sekaligus pada waktu yang sama melakukan pemangkasan secara kritis atas kelemahan-kelemahannya. Selanjutnya hasil eksplorasi tadi diramu dengan tatanan atau kaidah-kaidah teater barat –yang harus diakui memang lebih bersifat managerial—untuk diwujudkan kembali menjadi bentuk yang baru (pembaruan).
Kebaruan (inovasi) dalam lakon “Satu Lawan Satu” ini secara bagian per bagian yang diuntai menjadi satu keutuhan karya meliputi sebagai berikut :
Naskah karya sendiri yang ditulis oleh Winsa (sekaligus bertindak sebagai sutradara).
Menghadirkan lakon teater moderen dengan karakter dan roh teater tradisi (Sasak-Lombok) Kemidi Rudat, sekaligus mewujudkan kembali teater tradisional dengan pola penggarapan/penyutradaraan yang memakai kaidah-kaidah teater moderen.
Pola akting tubuh stakato (gerak patah-patah) hasil dari eksplorasi atas pola gerak dalam Kemidi Rudat.
Koreografi pada adegan-adegan grouping (berkelompok) dengan menghadirkan gerak-gerak tari –yang juga stakato– secara rampak.
Menghadirkan sebagian dialog pemain dengan model tembang atau dinyanyikan dengan irama lagu tempo cepat dan sedang.
Musik (instrumen musik rudad dan perkusi moderen) sebagai ilustrasi adegan,  iringan lagu, maupun iringan tari.
Eksplorasi kesenirupaan difokuskan pada KACA MATA yang dikenakan setiap pemain yang mampu mencerminkan karakter tokoh yang dibawakannya. Diperkuat pula dengan costume bercorak kontemporer dengan aksentuasi tradisi.
Meminimalisir sekat komunikasi antara pemain/pemusik dan penonton. Hal ini untuk merangsang keterlibatan para penonton secara langsung atas segala peristiwa yang tengah terjadi di atas panggung.
Memangkas perbedaan atmosfer pertunjukan: antara realita lakon dan realita sebenarnya beraduk jadi satu. Dengan istilah lain bahwa main teater apa sedang tidak main teater jadi sama saja rasanya.

Three In One
Arah tujuan dan sasaran dari pementasan lakon ini diharapkan dapat mencapai apa yang (kalau boleh) diistilahkan sebagai Three In One. Baik bentuk pementasan maupun audience/publiknya. Artinya adalah :
Menghadirkan bentuk, karakter, dan roh baru bagi teater moderen Indonesia. Demi kebutuhan ini, maka pementasan dilakukan di sebuah gedung yang cukup representatif bagi terselenggaranya pertunjukan terater moderen. Dalam hal ini di Teater Tertutup Taman Budaya NTB (panggung proscenium) yang telah cukup memiliki fasilitas bagi sebuah Gedung Pertunjukan.
Mengembalikan teater tradisi kepada para masyarakat pendukungnya. Untuk kebutuhan ini, maka pementasan dilaksanakan di tengah perkampungan yang pada jamannya menjadi tempat teater Kemidi Rudad hidup dan berada. Ialah di sebuah tanah lapang (panggung arena atau semi arena) di Kampung Punia Saba Kelurahan Punia Mataram Lombok
Sebagai bentuk Kesenian Transisi yang diperuntukkan bagi masyarakat urban dimana di satu sisi telah mulai melupakan/meninggalkan kesenian tradisi tetapi di sisi lain masih asing dengan kesenian baru. Maka untuk memenuhi kebutuhan ini pada saat pementasan di arena terbuka Punia Saba coba dihadirkan pula public penonton yang berasal dari lingkungan hunian komplek perumahan, yaitu Griya Punia Asri Mataram, yang kebetulan letaknya bersisian dengan lingkungan Punia Saba.
Dari tiga point itu (no. 1, no. 2 dan no. 3) tidak menutup keumungkinan bahwa karya semacam ini dapat: pertama memperluas khasanah teater moderen Indonesia untuk menemukan jati dirinya,  kedua: menjadikan komunitas teater semacam ini sebagai salah satu kelompok teater tradisional dengan konsep artistik dan management yang lebih baru, dan ketiga: mampu mengembalikan “ingatan serta kebutuhan” masyarakat urban (tradisional sekaligus moderen) atas bentuk dan jiwa kesenian tradisi  sekaligus mengantarkan mereka ke pintu masuk dari sebuah bangunan kesenian baru.

Climbing Rinjani

Travel Story by Jason Godfrey


Indonesia

Indonesia Lombok, Indonesia

It’s been eight hours. We’ve covered twelve kilometres ascending over 1400 metres. We’ve crossed from Lombok’s grassy plains into the cemara forests of Rinjani’s slopes. Eight sweaty gruelling hours uphill. It’s only day one.

To say things haven’t been easy is an understatement.

From the start, the trail is barely visible – the sun sears our skin. Our guide, who we’ve paid well, prefers to travel way ahead of the group in a perplexing habit that grows irritating as the sun fades and the grade of the slope goes from a gentle incline to pyramid-like steep. He moves even further forward disappearing into the growing dark. I squint, trying to make out his silhouette through the trees. The only clue to his whereabouts is when he turns back to shine his torch into our eyes.

Did I mention that the temperature has also dropped 25 degrees?

My sweat-drenched shirt isn’t so much drying as it is freezing. Frostbite in Indonesia, though a novelty, isn’t really appealing. Okay, so I’m exaggerating, but it’s still pretty darn cold. I’m tired, and my watch reads 8pm which means I’ve only got 6 hours to sleep before we start moving again. And that’s if I drop right here on the trail.

Only a day earlier I sat drinking Bintang, watching the sunset from the beach on Gilli Meno. A nice little island, where I had a nice little hut. My own slice of white sand and clear blue water. My own piece of paradise.

Traded away for this.

Mt. Rinjani – the third highest peak in Indonesia; towering over all of Lombok at 3700 plus metres. It’s summit is actually part of the rim of it’s giant forested crater. At the bottom of the cavity Mt. Baru springs up out the middle of Segara Anak Lake. This classic volcano shaped cone is still active, magma churning somewhere deep below it. The locals consider it a sacred place, a place of immortals and gods.

Sounded pretty cool in my travel book. My book also informed me that if I was planning on climbing Rinjani I’d need the better part of a week and some proper gear. I crossed it off my list. I hadn’t planned on being away from the beach and the Bintang beer that long.

Then I met Allen. Allen was wearing his hiking boots and guide certification around his neck. He’d said that Rinjani wasn’t as hardcore as my travel book led me to believe and I flipped through his show album of smiling faces and dawn summit photos.

“You can climb it in 3 days, 2 nights.” he tells me. That’s much shorter than I thought.

“What about hiking boots and cold weather gear?” I asked.

“You could do it in those.” He said laughing motioning to my flip flops. “It gets down to 5 degrees on the summit, but that’s in August. This time of year it’s 10-15 degrees.”

“My girlfriend?” I asked as she appeared wearing a summer dress and combing her hair. An image I assumed conveyed the idea we weren’t up for anything too diehard.

“No problem, no problem.”

Allen was totally contradicting everything I’d read about Rinjani, but he seemed competent and had over a decade of experience. It wouldn’t be the first time a guidebook was wrong. I should have looked at it like it wouldn’t be the first time a tourist got taken; the first time a guide stretched the truth in the slow season.

We finally make camp at the crater rim, 1000 metres below the summit. There’s five of us with Allen – my girlfriend, a couple from Canada and an Austrian. We huddle around a little fire shivering while munching down a plate of fried rice. I can’t feel my fingers.

This isn’t what 10-15 degrees feels like. I look over at Allen wearing a heavy jacket with a wool hat and gloves. He’s smiling, and I can’t help feeling a little misinformed as I wrap my flimsy beach sarong tighter around my head.

After four hours of sleep we’re up and ready to go. It’s three hours to the summit and it’s all uphill. We’re climbing up the rim of the crater now and it’s like climbing a gigantic sand dune. Take one step up, slide half a step back– repeat. We’re climbing an enormous pile of gravel. There’s no vegetation to cling too. We use little clumps of grass, tiny seedlings, anything that won’t slip, as footholds.

It’s frustrating.

I smack my flashlight, the flashlight Allen provided me, against my hand and the light flickers weakly and dies. The batteries are fresh – ergo, the torch is useless. As if cued Allen spikes me with his industrial strength torch killing my night vision.

Perfect.

On the ridge of the crater the grade becomes less difficult, the trail more solid. It’s a needed break. The quarter moon illuminates just enough to see. Everything is a shade of grey, except directly to the right of the trail where things go pitch black. It seems like the trail drops off into nothing. It’s disconcerting to think you’re so close to the edge.

We walk on and on in the dark over the loose gravel. Allen has moved well in front of us once again. He has the demeanour of a skilled adventurer who has been forced to guide tourists repeatedly through his former conquests.

“Watch out for the edge.” he yells back, his torch flashing momentarily in the dark then disappearing.

His concern for us is heart-warming.

Indonesia

Another hour and I see the sun starting to come up in the distance. The summit looms ahead of us, only 300 or so metres away, deceivingly close. It’s the final climb, the last great pile of sand to scramble and slip over. We were supposed to make the summit by dawn, but dawn is just a few minutes away. We won’t make it in time. With sarongs wrapped around our heads, shuddering in our sweaters, I’m not sure I want to go any further.

We stop and resign ourselves to enjoy sun up where we are. Only 300 metres to go but it’s a pile of gravel too far. Allen is almost up to the peak; I can see him waving his light around. I’d yell up to him and let him know we’re not going to make it but I doubt he’d hear me, doubt that he’d care.

It’s getting colder now that we’re not moving. I’ve got my hands stuffed in my armpits and as the sun gets brighter I can see my surroundings for the first time.

It’s incredible.

Lombok is spread out before us, a mass of rolling green. Beyond it’s shores there are two dark silhouettes in the water, the islands Gilli Aire and Gilli Meno. Far off in the distance, looking like a shadow, rises the dark triangle of Mt. Bromo in Bali.

Looking back at the where we’ve come from confirms the trail was uncomfortably close to the edge of the crater. The lake at the bottom shimmers up at us, an incandescent blue, surrounded by green slopes on all sides. More amazing is the view of Mt. Baru, almost a perfect maroon cone, little wisps of steam blowing out of the open vent at the top.

It’s a crater within a crater and this view at 6am, after all the discomforts seems suddenly worth it. My fingers are numb and this time I’m not exaggerating when I say it could be frostbite. We start to make our way back, the previously torturous path now considerably less painful thanks to the constant view of the inside of the crater. As we descend, and the sun gets stronger, I can start to feel my extremities again. I take the ridiculous sarong off my head.

Back at our camp we pack our things and start down to the lake. The trail doesn’t get any easier. We’re descending now but the path zigs and zags down the side of a grassy cliff. In the past 24 hours we’ve only stopped hiking for six. It makes for a painful day.

Thankfully the lake provides a refreshing dip. Bubbles stream up from its muddy bottom, a constant reminder that the cone hulking just across the water isn’t dormant. Swimming in a crater lake staring up at an active vent is enough to get your mind off the blisters on your feet.

A short jaunt from the lake are the hot springs. Clouds have rolled in, which means we’re enveloped in a cool mist, but that doesn’t stop us from stripping down to our shorts and enjoying the soothing waters on our aching muscles.

That night we camp on the inside of the crater. The forest is surprisingly pine like, the temperatures cooler. It’s a good thing Mt. Baru is still visible across the water otherwise I might forget I’m in the Ring of Fire.

The chickens the porters have been carrying in plastic grocery bags have finally been killed. Halal style, allowed to bleed out through their throats, now they lay sprawled at the bottom of a basket covered in flies looking scrawny without their feathers.

“Think I’m just having rice tonight.” one of the guys says, who happens to be a doctor. If the doctor isn’t eating it, then neither am I.

The next morning we climb out of the crater. Along the way we pass a group climbing to the summit. They’re all decked out in Teflon, treated brightly coloured jackets and brown hiking boots with deep lugs for traction. I look down at my battered basketball shoes, and dusty jeans. Everyone in our group had similar briefings from Allen and are similarly attired.

We probably look more like a group of refugees than hikers.

A few in the other group have hydration packs. We’re each carrying a plastic bottle of water that Allen says he refilled from a clean source. What are we going to do? We’re thirsty. I just hope I don’t get dysentery.

On the down slope of the crater the grasslands turn to rainforest. We’re all in pain so when the doctor suggests that we each take a handful of painkillers to make things easier, we all agree. Doctors always know best. Of course Allen has no say in it because as usual he’s a few hundred metres away.

In the rainforest things cool down and the trail gets more negotiable. Maybe it’s just the painkillers talking but things definitely seem more pleasant. On reflection, I’m happy I’ve made the trek. It’s well worth the hike to see the crater and the lake. I just wish Allen had been a little more forthcoming about the conditions.

Mt. Rinjani isn’t a casual hike. People have died there, and I don’t like the idea that we climbed it as ill prepared as we were. Still, we made it, and there’s an added sense of accomplishment knowing we did it without all the comfy gear and fancy trappings. Sure we suffered a few more pains, cursed a lot more but it toughened us up, made us harder – more durable. A fact that is forgotten when we emerge from the jungle and see the waiting van with it’s cushioned seats and air-conditioned interior.

Everyone is happy to have made the climb– but even happier to make Rinjani… a memory.

Story Illustration

Illustration by Bob Veon
(Bob Veon’s Website)

Read more about the author of this story:
Jason Godfrey

Source from : http://www.orientaltales.com/issues/008/page07.html